Sabtu, 29 Oktober 2016

Komunikasi Massa

Ciri-ciri Pers :
1. Publisitas
Publisitas yaitu sebuah penyebaran kepada publik atau kepada semua orang. Karena diperuntukan untuk semua orang, maka sifat surat kabar yaituumum. Isi surat kabar terdiri dari berbagai hal yang berkaitan dengan suatu kepentingan umum.
 
2. Periodisitas
Periodisitas ialah Terbitnya surat kabar ini bisa satu kali sehari, dua kali sehari atau satu kali atau dua kali seminggu. Seperti buku biasanya, tidak disebarkan secara periodik, tidak teratur hal ini dikarenakan terbitnya tidak teratur. Jadi dalam penerbitan seperti buku tidak memiliki ciri periodisitas meskipun disebaran pada semua orang dan isinya menyangkut suatu kepentingan umum.
 
3. Universalitas
Ciri surat kabar ini bisa dilihat dari kesemestaan isinya, aneka ragam dan dari seluruh dunia. Sebuah penerbitan berkala yang isinya untuk mengkhususkan diri pada suatu profesi atau aspek kehidupan, seperti Majalah Kedokteran, Arsitektur, Koperasi atau pertanian, tidak termasuk surat kabar.
 
4. Aktualitas
Menurut kata aslinya Aktualitas yang arinya “Kini” dan keadaan sebenarnya. Keduanya erat sekali disangkut pautkan dengan sebuah berita yang disiarkan surat kabar. Tetapi yang dimaksudkan dengan aktualitas sebagai ciri surat kabar ialah suatu kecepatan laporan tanpa menyampingkan pentingnya suatu kebenaran berita.

3 Pilar Penguat Pers
1. Idealisme. Dalam pasal 6 UU Pers no 40 tahun 1999 dinyatakan, pers nasional melaksanakan peranan sebagai: a. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; b. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi dan hak-hak azasi manusia serta menghormati kebhinekaan; c. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan infoemasi yang tepat, akurat, dan benar; d. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Maknanya, bahwa pers harus memiliki dan mengemban idealisme. Idealisme adalah cita-cita, obsesi, sesuatu yang terus dikejar untuk dijangkau dengan segala daya dan cara yang dibenarkan menurut etika dan norma profesi yang berlaku serta diakui oleh masyarakat dan negara. Menegakkan nilai0nilai demokrasi dan hak asasi manusia, memperjuangkan keadilan dan kebenaran, adalah contoh idealisme yang harus diperjuangkan pers. Dasarnya, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 3 ayat (1) UU no 40 tahun 1999, pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
2. Komersialisme. Pers harus mempunyai kekuatan dan keseimbangan. Kekuatan untuk mencapai cita-cita itu, dan keseimbangan dalam mempertahankan nilai-nilai profesi yang diyakininya. Agar mendapat kekuatan, maka pers harus berorientasi kepada kepentingan komersial. Seperti ditegaskan pasal 3 ayat (2) UU no 40 tahun 1999, pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Sebagai lembaga ekonomi, penerbitan pers harus dijalankan dengan merujuk pada pendekatan kaidah ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Secara manajerial perusahaan, pers harus memetik untung dan sejauh mungkin menghindari kerugian. Dalam kerangka ini, apapun sajian pers tak bisa dilepaskan dari muatan nilai bisnis komersial sesuai dengan pertimbangan dan tuntutan pasar. Hanya dengan berpijak pada nilai-nilai komersial, penerbitan pers bisa mencapai cita-citanya yang ideal.
3. Profesionalisme. Profesianalisme adalah isme atau paham yang menilai tinggi keahlian profesional khususnya, atau kemampuan pribadi pada umumnya, sebagai alat utama untuk mencapai keberhasilan. Seseorang bisa disebut profesional apabila dia memenuhi lima ciri berikut: a. memiliki keahlian tertentu yang diperoleh melalui penempaan pengalaman, pelatihan, atau pendidikan khusus di bidangnya; b. mendapat gaji, honorarium atau imbalan materi yang layak sesuai dengan keahlian, tingkat pendidikan, atau pengalaman yang diperolehnya; c. seluruh sikap, perilaku dan aktivitas pekerjaannya dipagari dengan dan dipengaruhi oleh keterikatan dirinya secara moral dan etika terhadap kode etik profesi; d. secara sukarela bersedia untuk bergabung dalam salah satu organisasi profesi yang sesuai dengan keahliannya; e. memiliki kecintaan dan dedikasi luar biasa luar biasa terhadap bidang pekerjaan profesi yang dipilih dan ditekuninya; f. tidak semua orang mampu melaksanakan pekerjaan profesi tersebut karena untuk menyelaminya mensyaratkan penguasaan ketrampilan atau keahlian tertentu. Dengan merujuk kepada enam syarat di atas, maka jelas pers termasuk bidang pekerjaan yang mensyaratkan kemampuan profesionalisme.

Sistem Pers di Indonesia
Setiap Negara memiliki sistem pers sendiri-sendir dikarenakann perbedaan dalam tujuan, fungsi, dan latar belakang social politik yang menyertainya. Nilai, filsafat dan ideologi suatu Negara juga telah berperan besar dalam mempengaruhi sebuah pers. Ini berarti bahwa sistem yang dikembangkan juga berbeda, termasuk didalamnya adalah sistem persnya. Erat kaitannya dengan itu, pola hubungan segi tiga antara pemerintah, pers dan masyarakat juag berbeda. 
Fred Siebert, Wilbur Schramm, dan Theodore Peterson dalam bukunya Fourth Theories Of The Press (1963) mengamati setidak-tidaknya ada empat kelompok besar teori (sistem) pers, yakni sistem pers otoriter (authoritarian), sistem pers liberal (libertarian), sistem pers komunis (Marxist) dan sistem pers tanggungjawab social (social responsibility) (Rachmadi, 1990). 
Sistem pers Indonesia adalah sistem pers Pancasila. Apa yang diberitakan oleh pers harus bisa dipertanggungjawabkan pada masyarakat. Adapun tanggung jawab itu ada satu dasar ideologi yang diyakini, yakni Pancasila.8 Sistem Pers Indonesia mendekati teori tanggung jawab social, akan tetapi sistem pers Indonesia tidak identik dengan teori tanggung jawab social. Sistem pers Indonesia memiliki kekhasan karena ideologi dan falsafah Negara Indonesia yakni Pancasila dan budaya masyarakat Indonesia yang khas pula. 
Sistem pers Indonesia disebut sebagai Pers Pancasila, sebagaimana yang selalu dikatakan oleh Menteri Penerangan RI pada saat itu beserta jajarannya, yang juga disepakati oleh insane pers Indonesia. 
Media massa Indonesia sebagai suatu sistem, terkait dengan aspek-aspek lainnya yang tertuang dalam Keputusan Dewan Pers No. 79/XVI/1974 yang intinya mengemukakan bahwa kebebasan pers (media massa) Indonesia yang berlandaskan pada hal-hal: 
1. Idiil: Pancasila 
2. Konstitusional: Undang-Undang Dasar 1945 dan Ketetapan-Ketetapan MPR 
3. Strategis: Garis-Garis Besar Haluan Negara 
4. Yuridis: Undang-Undang Pokok Pers No. 21 Tahun 1982 
5. Kemasyarakatan: Tata nilai social yang berlaku pada masyarakat Indonesia 
6. Etis: Norma-norma kode etik professional 
Pers Indonesia mempunyai kewajiban: 
1. Mempertahankan, membela mendukung dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen 
2. Memperjuangkan pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat yang berlandaskan demokrasi Pancasila 
3. Memperjuangkan kebenaran dan keadilan atas dasar kebebasan pers 
4. Membina persatuan dan menentang imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, feodalisme, liberalisme, komunisme, dan fasisme/ dictator 
5. Menjadi penyalur pendapat umum yang konstruktif dan progresif-revolusioner (UU Pokok Pers No. 21 Tahun 1982 pasal 2) 
Kebebasan Pers Indonesia dijamin oleh pasal 28 UUD 1945 yang intinya mengemukakan bahwa setiap warga Negara Indonesia bebas mengeluarkan pendapat, baik lisan maupun tulisan. Dengan demikan setiap warga Negara mempunyai hak penerbitan Pers asal sesuai dengan hakikat Demokrasi Pancasila (UU Pokok Pancasila No. 21 tahun 1982). Kebebasan Pers Indonesia adalah kebebasan yang bertanggung jawab yang berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila.

Fenomena pers di Indonesia dan saat ini 
Pada masa Reformasi pemerintah memberi kemudahan untuk memperoleh SIUPP. Akibat kemudahan memperoleh SIUPP tersebut, jumlah pemohon SIUPP membengkak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan dengan masa Orde Baru. Pada fenomena tersebut tercantum pada Pasal 9 ayat 2 UU No. 40 Tahun 1999 meniadakan keharusan mengajukan SIUPP untuk menerbitkan pers. 





Selasa, 05 Juli 2016

SEMINAR

Seminar " How to Communicate with Creative Ways "
Tanggal : 05 April 2016
Pembicara : Natasha Meutia
                    Eddi Brokoli
Isi Seminar yang di sampaikan : Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan baik dengan orang lain secara baik dalam bidang psikologi dan bagaimana cara kita berkomunikasi dengan masyarakat luas. dengan teknologi maupun langsung ( yang disampailan ibu natasia meutia)
Pada sesi yang ke dua tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi sebagai ladang bisnis kita, cara menjadi pemberani di depan publik dan. bagimana cara kita menjadi kreatif ( yang disampaikan eddi brokoli)

Seminar " Turn Your Passion Into Creative Work in Digital Era "
Tanggal : 12 April 2016
Pembicara : Marchella F. P
                    Reza Mustar
Isi Seminar yang disampaikan : Tentang pengalaman para pembicara bagimana bisa berhasil seperti sekarang dan bagaimana kita sebagai penerus bangsa bisa menjadi kreatif dan memunculkan ide ide yang baru. Dan kita di beri saran agar tidak cepat menyerah akan hambatan yang akan dihadapi jika kita mulai sesuatu.  Dan jadilah pahlawan untuk diri sendiri dan orang lain
Pertanyaan yang disampaikan saat sesi Tanya jawabpun sangat membantu kami menghadapi masa depan agar tidak menjadi halangan di masa depan, dan sangat memotivasi.

Sabtu, 07 Mei 2016

Anggota DPR sesuai dengan sila-sila Pancasila

Sila ke 1 : Ketuhanan Yang Maha Esa
Desy Ratnasari tidak kesulitan untuk mengajarkan anak nya berpuasa karena anaknya tak doyan makan. Dan sudah berapa kali Ramadhan ikut berpuasa.

Desy Ratnasari Tak Sulit Ajarkan Anak Puasa
Desy Ratnasari tak perlu repot-repot mengajarkan anak berpuasa di bulan Ramadan. Nasywa Nathania Hamzah, anak semata wayangnya, tak doyan makan.

"Anak saya mah gampang banget diajarinnya, alhamdulillah. Dari kecil dia memang susah makan," kata Desy ditemui di Kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Kamis (25/7/2013)

Nasywa yang kini berusia 11 tahun itu sudah beberapa kali Ramadan ikut berpuasa. Bahkan, dia jarang sekali makan sahur.

"Tapi saya kasih tahu, kalau kamu pilih nggak sahur, nggak boleh makan nanti siangnya. Jangan buat alasan untuk nggak puasa," ujar Desy.

Meski demikian, Desy pernah memberikan hadiah jika anaknya kuat berpuasa sampai magrib. Namun, tidak untuk sekarang. "Kalau sekarang sudah kewajiban," kata Desy. (Fei)

Sumber : Liputan6.com

Sila ke 2 : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Desy Ratnasari mendukung gerakan Parinama Astha Foundation (PARTHA) yang didirikan oleh Rahayu Saraswati untuk memberantas Human Trafficking.

Desy Ratnasari Dukung PARTHA Berantas Perdagangan Manusia
Liputan6.com, Jakarta Kasus perdagangan manusia masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia. Hal ini, lantas menjadi perhatian Desy Ratnasari. Anggota DPR komisi VIII ini mendukung berbagai gerakan yang peduli dengan upaya memberantas human trafficking ini.
Salah satunya, Desy mendukung gerakan Parinama Astha Foundation(PARTHA) yang didirikan oleh Rahayu Saraswati, yang juga anggota DPR komisi VIII. PARTHA sendiri merupakan sebuah gerakan yang melawan segala bentuk perdagangan manusia.
"Kasus perdagangan manusia ini terlalu banyak, mungkin belum diekspos. Semoga (kampanye) gerakan ini bisa jadi lebih mengurangi perdagangan manusia ke depannya. Kalau bisa hilang, bahkan sampai nol," ucap Desy Ratnasari saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (31/1/2016).
Mendapatkan dukungan dari banyak teman, jelas membuat Rahayu Saraswati atau yang akrab disapa Sarah ini merasa senang. Sarah berharap tak ada lagi anak-anak dan wanita yang menjadi korban perdagangan manusia ini.
"Sebenarnya PARTHA ini mendukung melawan perdagangan manusia, ada dagangan kecil untuk mendukung kampanye ini. Dukungan dari teman-teman juga, Desy Ratnasari, dan kami pastikan anak-anak ke depan terjaga," terang Sarah. (Fac/Rtn)

Sumber : Liputan6.com

Sila ke 3 : Persatuan Indonesia
Demi persatuan antara anak dengan bapak nya atau mantan suaminya, Desy Ratnasari tidak pernah memberikan batasan kepada mantan suami nya untuk bertemu dan berkumpul dengan anaknya Nazwa.

Desy Ratnasari Bebaskan Anak Lebaran Bersama Mantan Suami
JAKARTA - Desy Ratnasari tak memermasalahkan anaknya, Nazwa Nathania Hamzah, akan bersamanya atau mantan suami, Sammy Hamzah, saat Lebaran. 
Namun, putrinya lebih sering memilih menghabiskan waktu bersamanya.

"
Mostly sama saya, tapi sebelum Lebaran mau pergi sama ayahnya. Ayahnya juga sudah punya anak banyak. Pokoknya aku enggak jadwalkan, suka-suka Nazwa. Kalau mau ketemu Nazwa, sudah bisa telefon," kata Desy ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Desy mengungkapkan
, hubungan putrinya dengan mantan suami terjalin baik. Bahkan, menurutnya, Nazwa bisa berbaur dengan anak-anak mantan suaminya saat ini.

"Baik-baik saja,
 Alhamdulillah. Mereka kompak, suka diajak ngobrol. Mereka suka rebutan mainan, Nazwa enggak bisa apa-apain," tandasnya.
(gal)

Sumber : Okezone.com

Sila ke 4 : Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Untuk meningkatkan perekonomian rakyat di Desa Cijurey, Desy Ratnasari memabagikan mesin jahit untuk menopang keuangan keluarga.

Bagikan Mesin Jahit, Desy Ratnasari Bangkitkan Harapan Warga

Desy Ratnasari menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib masyarakat di tanah kelahirannya. Minggu (15/7/2013), pelantun Tenda Biru itu melanjutkan Program Aksi Nyata (PAN) dengan membagikan mesin jahit kepada 30 kelompok penjahit yang ada di Desa Cijurey, Gegerbitung, Sukabumi, Jawa Barat.

Desy menjelaskan, kaum ibu di desa tersebut banyak yang menjadi penjahit demi menopang keuangan keluarga. "Selama ini mereka dapat orderan yang temporary.Semoga dengan mesin jahit baru ini pekerjaan mereka jadi lebih cepat dan hasilnya bagus sehingga makin banyak orderan yang masuk," ungkap Desy usai acara.

Dengan banyaknya pesanan yang dimaksud, otomatis harapan warga untuk mendongkrak perekonomian keluarga bisa tercapai. Inilah yang menjadi tujuan utama. "Program bantuan seperti ini bertujuan agar masyarakat lebih mandiri dari sisi ekonomi," jelas Desy.

Tak hanya memberikan bantuan, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi Desy mendekatkan diri dengan warga Sukabumi. Apalagi, saat ini ia merupakan calon anggota legislatif periode 2014-2019 dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk daerah pemilihan Jawa Barat IV yang meliputi Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Menurut perempuan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 12 Desember 1973 ini, sudah saatnya partai politik dan artis yang terjun ke dunia politik, tidak hanya mengobral janji kepada masyarakat. Para figur publik tersebut, lanjutnya, harus melakukan aksi nyata yang bisa dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.

"Masyarakat telah banyak di janjikan bantuan, namun belum ada yang dirasakan. Kami tidak memberikan janji tetapi langsung memberikan bukti sehingga bisa membantu mereka," dia menguraikan.

Sedikit banyak, Desy merasakan susahnya kehidupan masyarakat golongan bawah, termasuk kelompok penjahit tersebut. "25 tahun alhamdulillah kerja di dunia peran salahsatunya jadi penjahit. Saya diberi kesempatan berperan tanpa jadi kehidupan sehari-hari. Jadi saya tahu rasanya, kerja 12 jam, apalagi yang di konveksi dan garment," ceplos dia.

Selain mesin jahit, wanita berusia 39 tahun ini juga memberikan bantuan kepada masjid setempat berupa karpet dan perbaikan MCK (mandi, cuci, kakus).(Jul/Mer)

Sumber : Liputan6.com

Sila ke 5 : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Demi terciptanya rasa adil di semua kalangan masyarakat tidak ubah nya dengan PKL yang ada di Jakarta maka Desy Ratnasari berupaya untuk mensentralisasikan PKL tersebut di suatu tempat sehingga mereka tidak akan di gusur oleh Satpol PP.

Doyan Jajan, Desy Ratnasari Berharap PKL Terlokalisasi

JAKARTA – Di balik tumbuh kembangnya perekonomian rakyat kecil dengan menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL), menjadi masalah bagi Kota Jakarta. Desy Ratnasari yang mengaku suka jajan, berharap PKL dapat terlokalisasi.

Desy yang baru terpilih menjadi anggota DPR menilai, harus ada solusi yang tepat dari pemerintah kota untuk menindaklanjuti salah satu problema yang tidak kunjung usai di Ibu Kota, yakni PKL.

"Demi kenyamanan dan ketertiban Jakarta terutama, sudah semestinya harus ada kerja sama dari pemerintah kota untuk menempatkan ini menjadi sebuah potensi ekonomi rakyat," kata Desy saat berbincang dengan
 Okezone, baru-baru ini.

Desy yang mengaku pencinta jajanan menuturkan, harus ada solusi yang tepat untuk pedagang kaki lima di Jakarta.

"Menurut saya, supaya lebih tertib, nyaman, dan indah, jadikan satu saja mereka di satu tempat yang layak dan khusus jajanan kaki lima. Atau gelar festival kaki lima, saya malah senang melihatnya," tutup dia.
(Edi)

Sumber : Okezone.com





Oleh: 

Anissa Aprilia Adhianti

1MA03

10815839